Kamis, 02 Desember 2010

Misteri Peralihan Siang & Malam

Teknik okultasi bintang atau "Star occultation" ini digunakan untuk meneliti atmosfir suatu planet yang semuanya berada di tata surya kita, termasuk planet bumi. Sejak tahun 2002 tidak kurang dari 400 bintang menjadi objek okultasi tiap hari pada berbagai posisi di atmosfir bumi untuk mempelajari efek material bercahaya dan dampaknya terhadap planet yang bersangkutan.

Teknik ini digunakan untuk menguak apa yang tersembunyi dibalik ketebalan atmosfir suatu planet, termasuk atmosfir bumi. Okultasi ini adalah teknik untuk mengukur cahaya atau gelombang dari suatu bintang yang dilenturkan oleh atmosfir suatu planet, pada waktu bintang tersebut sudah terbenam pada planet yang bersangkutan.

Sebagaimana yang diketahui, pada waktu masih di atas ufuk maka seluruh cahaya dari bintang tersebut akan mengarah ke bawah, yaitu kearah planet. Tapi ketika terbenam dibawah ufuk, walaupun masih memancarkan cahayanya, tetapi cahaya yang mengarah ke bawah semuanya hilang ditelan kegelapan angkasa luar, sebagian kecil cahaya yang mengarah ke planet tentu saja akan diserap oleh planet yang bersangkutan.

Yang tersisa adalah gelombang atau cahaya yang dilenturkan ke arah sebaliknya tepat seperti ketika malam tiba di bumi, dan malam permukaan paparan (exposure) energi yang dilenturkan oleh permukaan bumi dari matahari yang sudah terbenam.

Paparan ini mengarah ke angkasa, dan karena sudah mengalami atau melalui ketebalan atmosfir planet tersebut, maka paparan gelombang tersebut sudah mengalami penapisan (filtering) dari atmosfir planet yang bersangkutan.

Gelombang tersebut akan mengalami penyerapan (absorption), emisi (emission) atau radiasi kembali (re-radiation), pada panjang-gelombang yang relevan dengan bahan yang terkandung dalam atmosfir dalam planet yang bersangkutan.

Dengan menggunakan teknik spektroskopi yang biasa dipakai dalam gelombang-gelombang yang dipancarkan dari tata-surya atau dari galaksi atau dari alam yang lain di dalam alam semesta ini.

Dengan deteksi ini dapat diketahui bahan atau zat kimia apa saja yang ada di suatu bintang dan bahan apa saja yang ada diantaranya yang dilewatinya.

Material-material itu bisa saja merupakan produk baru industri yang laku secara komersial akan tetapi dampaknya tehadap lapisan ozon belum diketahui dengan pasti.

Para ahli menggunakan instrumen yang bernama GOMOS (Global Ozone Monitoring by Occultation of Star), atau Pemantauan ozon secara Global dengan Teknik Okultasi Bintang yang dipasangkan di atas sateliti Envisat.

Terlalu dini untuk menilai bahwa ozon telah kembali ke keadaan semula, sebab data yang terkumpul dari instrumen juga menemukan fenomena lain yang berkontribusi terhadap jumlah ozon di atmosfir.

Pada bulan Januari dan Pebruari 2004, GOMOS melihat akumulasi Nitrogen dioksida pada ketinggian 65 km. Nitrogen dioksida adalah gas yang penting untuk dilacak keberadaannya di atmosfir bumi sebab dia bisa merusak ozon.

Dalam dua bulan berikutnya lapisan gas ini menyusut sampai 45 kilometer, jelaslah dia telah membinasakan ozon tapi selama menurun ia memberikan teka-teki lainnya bagi para peneliti.

Di pihak lain, sebuah instrumen okultasi bintang diinstalasi dalam satelit MarsExpress. Sejak kendaraan ruang angkasa datang di Planet Merah pada tahun 2003, SPICAM (Spectroscopy for Inverstogation of Characteristics of Athmosphere of Mars). atau Spektroskopi untuk menyelidiki karakteristik atmosfir Mars, dan sejauh ini telah mengamati lebih dari 1000 okultasi bintang.

Pekerjaan ini menyediakan deskripsi yang lebih rinci dari atmosfir Mars bagian atas dan membuka tabir misteri dari lapisan, terlepas dari pertimbangan ilmu sains dasar untuk misi eksplorasi yang akan datang. Profil atmosfir Mars penting untuk merancang payung (parachute) untuk keperluan pendaratan.

Perkembangan terbaru dari instrumen okultasi ini ialah SPICAV (Spectroscopy for Investigation of Characteristics of Athmosphere of Venus) atau Spektroskopi untuk Menyelidiki Karakteristik Planet Venus pada kendaraan ruang angkasa Venus Express.

Terdapat perbedaan karakteristik antara bumi, Mars dan Venus. Atmosfir di planet ini, jauh lebih pekat dan SPICAV mengungkapkan profil temperatur dan kepadatan dari atmosfir yang sudah ditunggu peneliti bumi untuk menerbitkan makalah penelitiannya.

Demikian salah satu kemanfaatan peralihan siang ke malam. Ini juga masih sangat jauh kurang dahsyat dibandingkan dengan dari terciptanya alam semesta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar